Titik. Bokeb Kalau tidak cocok ya untuk apa dipaksakan?“Mau ketemu teman di cafe depan, Dok” jawabku sambil tersenyum.“Teman apa temaann..?” dia bertanya lagi dengan nada bercanda. “Kalau aku boleh nebak, yang kamu tahu soal seks hanya sebatas yang kamu baca dari cerpen-cerpen dewasa kan?”Aku terdiam memerhatikan tebakannya.“Diam berarti iya,” katanya melanjutkan. Kedua tangannya memegang erat kepalaku, memaju-mundurkan mulutku dengan kecepatan yang semakin meningkat. “Begitupun nanti, maaf kalau aku mancing kamu karena aku selamanya akan jadi cowok yang naksir kamu,” katanya. Mantan-mantanku selalu puas ketika aku oral sampai keluar. Dia pasti masih ingat ceritaku soal tubuhku yang mudah terangsang. Tawanya terdengar renyah dan puas.“Kenapa ketawa?” tanyaku ketus.“Jangan kaku gitu ah,” dia memberi saran. “Aku inget semua hal tentang kamu lho!“Aku inget nama rumah sakit




















