“Kamu seperti habis menangis, kenapa sell?” Tanyaku.Gisell terdiam sambil memandangi kaca depan mobil.“Maaf kalau aku lancang, hanya bertanya…” Tambahku khawatir ia tersinggung dengan pertanyaanku barusan.“Enggak kok, Shan. Ku jilati tiap senti kulitnya yang putih dan halus tersebut. Film Porno Kami pun terlelap. Aku pun mendekapnya dengan penuh kelembutan.Perlahan aku bangkit masih dengan mendekap Gisell. Kamu gak mau tidur dulu aja di rumahku? Ku bantu mengangkat pantatnya agar genjotannya semakin cepat. Bisa dibilang, ia termasuk wanita yang awalnya aku kira tidak akan pernah bisa aku tiduri.Aku meminta Gisell untuk berdiri, ku tarik tangannya perlahan, mengarahkannya ke luar kamar. Daripada kenapa-kenapa di jalan karena ngantuk…” Tanya Gisell.“Enggak apa apa kok, udah biasa banget nyetir jam segini, namanya juga supir hehehe…” jawabku santai.
















